FUAD Siap Sambut Tantangan Di Era Industri 4.0

Palangka Raya – Studium General yang digelar oleh Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah bertempat di Aula IAIN Palangkaraya membahas tema “Berkaca Pada Masa Lalu Untuk Menatap Masa Depan Dalam Memasuki Budaya Islam Era Industri 4.0” hari ini (5/9), menarik untuk dibahas dalam menyiapkan kesiapan diri dengan hadirnya era industri 4.0 dimasa sekarang.

Narasumber pada kuliah umum Dr. Zaprulkhan M.S.I mengatakan bagaimana kondisi di era sekarang sudah tidak ada batasan lagi dalam berinteraksi, karena tekhnologi sangat menunjang hal tersebut sebut saja internet semua orang mampu mengaksesnya.

“Era yang sudah tidak berbatas ini ada sisi negatif dan positifnya tinggal pilihan ada dikita” ucap Dekan Fakultas Dakwah & Komunikasi Islam IAIN Syekh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Syekh Abdurrahman Siddik, Dr. Zaprulkhan M.S.I, saat disambut dan dikalungkan selendang tanda penghormatan oleh Duta Mahasiswa FUAD

Menurutnya ada dua konsep besar sebagai pegangan kita sekarang dalam memfilter era industri 4.0 dikalangan akademik agar tidak bablas yaitu disebut dengan Grassroot Understanding, konsep ini menawarkan agar tradisi keilmuan kita di negara ini jangan hilang dan tradisi keilmuan itu harus mengakar dan dikawal oleh kita semua. yang kedua kita juga harus memiliki yang disebut dengan Global Mindset maksudnya ialah kesadaran kita bukan lagi menjadi sebagai orang lokal (Indonesia) tetapi ketika aktif pada industri 4.0 ini kita harus menjadi warga dunia ketika berada didalamnya, maksudnya mind set kita harus bisa sebagai warga dunia yang apabila menularkan tulisan atau ide kita bahwa itu semua bisa bermanfaat dan dirasakan oleh khalayak warga dunia pada Industri 4.0 ini.

“Nah, yang menjadi otokritik kita sekarang ialah jangan sampai kita hanya mengenal pemikiran para tokoh lain di timur tengah tapi tidak mengenal keilmuan dari tokoh pemikir di Indonesia seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim As’ari, Buya Hamka, Cak Nur dll. Kekhawatiran kita ialah menjadikan kita malah melupakan tradisi keilmuan dari negara kita sendiri hingga meyakini pemikiran luar yang belum tentu relevan dalam konteks keindonesiaan” pungkas Dekan yang telah mempublikasikan 35 karya tulis ini.

Di kesempatan yang sama Muhammad Khodafi Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya menyampaikan era industri 4.0 ini ialah era tanpa batas semua bisa mengakses termasuk budaya lokal yang masih dirawat dan bahkan budaya asing melalui tekhnologi.

“Saya ambil contoh gadget handphone yang kita pegang ialah berfungsi sebagai media & komunikasi dalam menyampaikan pesan tanpa harus bertemu semua aktifitas bisa dilakukan digenggaman” tandas ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel

Keempat narasumber menyampaikan materinya yang dipandu oleh Dosen FUAD, Muhammad Iqbal, M.Hum

Kajur SPI ini menambahkan harusnya di era ini banyak hal positif yang bisa didapatkan jangan sebaliknya malah dimanfaatkan pada hal negatif semisalnya memutus silaturahim akibat “konflik’ di dunia maya. Bahkan di era ini dalam penggunaan medsos pada handphone merupakan bagian dorongan psikologis dan hasrat sosial jika tanpa dunia internet saja sehari terasa hampa artinya kita memasuki ketergantungan tekhnologi. “Dalam kaitan pada tema kuliah umum kita ini ialah bagaimana budaya lokal perlu di perkuat melalui era industri 4.0 ini bukan malah ditinggalkan. tutupnya. (FAI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *